VISI DAN MISI Dr. Ir. H. ZAINAL. ABIDIN, MM. ME. & Hj.DEWI KHALIFAH, SH, MH.
Mewujudkan Sumenep Makmur Cerdas dan Berakhlak
- PENDAHULUAN
Pulau Madura merupakan sebuah pulau yang menyimpan potensi alam yang kaya. Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Pulau Madura yang terkenal dengan potensi alam yang indah dan memiliki keragaman budaya. Untuk membangun dan menjadikan Sumenep menjadi sebuah kabupaten yang makmur dan sejahtera diperlukan adanya kepemimpinan yang berintegritas dan bersih. Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dengan ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Luas Wilayah Kabupaten Sumenep terbagi ke dalam pemukiman seluas 179,324696 km², areal hutan seluas 423,958 km², rumput tanah kosong seluas 14,680877 km², untuk perkebunan/tegalan/semak belukar/ladang seluas 1.130,190914 km², untuk kolam/pertambakan/air payau/danau/waduk/rawa seluas 59,07 km², dan lain-lainnya seluas 63,413086 km². Untuk luas lautan Kabupaten Sumenep yang potensial dengan keanekaragaman sumber daya kelautan dan perikanannya seluas kurang lebih 50.000 km². Kabupaten Sumenep yang berada di ujung timur Pulau Madura inimerupakan wilayah yang unik karena terdiri wilayah daratan dengan pulau yang tersebar berjumlah 126 pulau ( berdasarkan hasil sinkronisasi Luas Wilayah Kabupaten Sumenep ) yang terletak di antara 113°32’54”-116°16’48” Bujur Timur dan di antara 4°55′-7°24′ Lintang Selatan.
Jumlah pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep hanya 48 pulau atau 38%, sedangkan pulau yang tidak berpenghuni sebanyak 78 pulau atau 62%. Pulau Karamian di Kecamatan Masalembu adalah pulau terluar di bagian utara yang berdekatan dengan Kalimantan Selatan, sedangkan Pulau Sakala merupakan pulau terluar di bagian timur yang berdekatan dengan Pulau Sulawesi . Pulau yang paling utara adalah Pulau Karamian dalam gugusan Kepulauan Masalembu dan pulau yang paling timur adalah Pulau Sakala. Perbatasan dengan daerah sekitarnyaadalah Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Madura dan Laut Bali, Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa, Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan, Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Jawa dan Laut Flores.
Kondisi demografi atau kependudukan di Kabupaten Sumenep dapat digambarkan melalui jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk. Jumlah penduduk Kabupaten Sumenep sampai tahun 2014 menurut Badan Pusat Statistik berjumlah adalah 1.071.591 jiwa. Dengan kondisi demografi ini, kemakmuran Kabupaten Sumenep ke depan akan terwujud manakala pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan bertekad untuk bermujahadah memerangi kemiskinan dengan membuat terciptanya kesempatan kerja bagi masyarakat Sumenep. Tentu saja, perhatian terhadap ketenagakerjaan tidak hanya difokuskan pada berapa besar jumlah kesempatan kerja yang dibentuk, tetapi juga perlu diperhatikan kualitasnya.
Otonomi daerah yang menguat setelah era reformasi merupakan tuntutan sebuah kabupaten supaya senantiasa dapat mengelola sumber daya alam dan keragaman budayanya demi kemakmuran, kecerdasan dan pembangunan Kabupaten Sumenep sesuai amanat yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan hal itu, maka pembangunan di Sumenep dapat dimulai melali sektor pertanian dan peternakan, pendidikan dan kesehatan serta pembangunan mental. Sektor pertanian dan peternakan merupakan salah satu kekuatan ekonomi di Kabupaten Sumenep.Para petani ke depan tidak boleh meninggalkan lahan garapannya dan pindah bekerja ke sektor lain. Petani dan peternak yang telah meninggalkan sektor ini diharapkan kembali untuk bercocok tanam dan beternak dalam Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP), sehingga program ini harus memperoleh prioritas perhatian dan dukungan. Demi kemakmuran bersama, pembangunan infrastruktur strategis.
Jembatan Suramadu telah menghubungkan antara Pulau Jawa dan Madura menjadi arus barang dan jasa dia antara kedua pulau ini berjalan dengan cepat. Dengan terbangunnya infrastruktur ini, maka dengan adanya Jembatan Suramadu sebagai akses harus dapat berjalan beriringan dengan percepatan pembangunan di Pulau Madura khususnya di Kabupaten Sumenep yang terletak di ujung timur Pulau Madura. Selain itu, pembangunan sektor pendidikan dan juga kesehatan dengan pendekatan karakter yang berakhlak harus bisa dilaksanakan di Kabupaten Sumenep sehingga tetap menjadikan kabupaten di ujung timur Pulau Madura ini memiliki karakter yang berakhlak.
- MODAL SOSIAL
memahami bahwa ketiganya harus berjalan harmonis sehingga nilai-nilai yang menggerakkannya tidak bertabrakan satu dengan lainnya. Secara implisit dan eksplisit disebutkan bahwa jiwa dari politik Indonesia adalah musyawarah (permuswaratan rakyat yang dibimbing oleh hikmah dan kebijaksanaan), sedangkan jiwa ekonomi adalah kekeluargaan (perekonomian disusun sebagai usaha berdasar kekeluargaan), dan sistem sosial yang bertumpu kepada gotong royong (bukan individual).
Saripati konstitusi dan Pancasila itu membentuk karakter dan jati diri bangsa sehingga membentuk sistem politik, ekonomi, dan sosial yang lengkap dan saling mendukung. Demokrasi politik di Indonesia sebetulnya bukanlah demokrasi “satu orang satu suara” seperti yang dijalankan selama ini, namun demokrasi yang bertumpu kepada pengetahuan dan kebijakan bersama sehingga setiap keputusan diambil berdasarkan musyawarah. Sistem ekonomi merupakan akumulasi dari kegiatan kolektif, bukan semangat persaingan antarindividu yang saling mematikan, sehingga bangun kegiatan ekonomi yang cocok adalah koperasi. Sementara itu, sistem sosial-budaya masyarakat adalah gotong royong yang menandai semangat kolektivisme tersebut sehingga tujuan persatuan bangsa dapat terwujud.
Masyarakat Sumenep memiliki modal sosial cukup handal. Elemen modal sosial yang melekat di dalam perilaku penduduk telah ikut menentukan perkembangan Kabupaten Sumenepdari waktu ke waktu. Tetapi, tidak dapat dihindari, dengan semakin terbukanya sarana komunikasi dan informasi serta meluasnya interaksi masyarakat, modal sosial sebagai sandaran masyarakat Sumenep secara pelan-pelan tetapi pasti kian digantikan oleh berbagai elemen baru berbasiskan materi dan bersifat artifisial untuk kepentingan jangka pendek. Modernisasi ekonomi dianggap merupakan bagian dari elemen penting yang dianggap mengoyak modal sosial tersebut, antara lain akibat orientasi pembangunan ekonomi yang terlalu memuja kepemilikan material. Masyarakat disiapkan dengan sistem dan kegiatan ekonomi yang fokusnya kepada akumulasi material sehingga menempatkan persaingan antarindividu maupun kelompok menjadi suatu keniscayaan.
Di sini kemudian ada yang hilang dalam sistem kehidupan secara keseluruhan. Keselarasan dan harmoni sosial meredup digantikan semangat persaingan keras demi meraih kekayaan material. Konsep kepercayaan atau saling percaya (trust), kejujuran, kohesivitas atau kekentalan dalam jaringan hubungan antarindividu maupun kelompok, empati, saling menghormati dan menghargai, gotong-royong dan kerjasama, yang sebenarnya memiliki pengaruh cukup besar terhadap pertumbuhan kemakmuran ekonomi dan ketenteraman masyarakat hilang sedikit demi sedikit.
Oleh karena itu, pemerintah (pusat maupun daerah) diharapkan mengembalikan jati diri bangsa tadi, khususnya di bidang sosial, sebagai sarana memulihkan kekayaan sosial dan budaya masyarakat sebagai penopang kehidupan politik dan ekonomi. Melalui beragam mekanisme dan kebijkan Pemerintah Daerah, maka partisipasi masyarakat dalam mengaktualisasikan elemen modal sosial sebagai proses demokrasi yang membebaskan dan menyejahterakan serta meningkatnya rasa tanggung jawab birokrasi terhadap layanan kepentingan publik dapat direvitalisasi dan ditumbuhkembangkan. Keterlibatan masyarakat dalam semua bidang merupakan hal yang niscaya karena di situlah letak kemanusiaan yang sesungguhnya. Rakyat harus memiliki ruang mengekspresikan gagasan dan pikirannya secara penuh diberbagai bidang sehingga terbentuk kepercayaan diri. Sementara itu, pemerintah daerah yang menjadi fasilitator dan regulator mesti benar-benar mengarahkan kebijakan dan layanan yang dijaalankan semata-mata untuk kepentingan hajat publik. Jika kedua hal itu dapat mewujud secara nyata, maka modal sosial yang dimiliki bukan hanya bisa dirawat tetapi juga menjadi dasar pembangunan ekonomi dan politik di Kabupaten Sumenep.
- VISI DAN MISI
MISI :
- Meningkatkan ekonomi serta menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
- Menjamin ketersediaan pangan.
- Pendidikan gratis 12 tahun dengan kualitas baik.
- Memaksimalkan potensi pertanian dan kelautan.
- Memaksimalkan potensi ekonomi pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep.
- Membangun substansi pendidikan berkarakter yang berpondasikan akhlaqul
- STRATEGI DAN PENDEKATAN
Pemikiran tersebut telah mengakibatkan adanya pergeseran “pendekatan dari atas” (top-down) menjadi dan bertitik temu dengan “pendekatan dari bawah” (bottom-up), serta dari standarisasi terpusat menjadi penganekaragaman kreativitas dan produktivitas lokal.Perubahan dan pergeseran ini akan berjalan dengan baik dan mencapai sasaran manakala informasi pembangunan yang menyangkut kebijakan, permasalahan, dan sumber daya yang diperlukan dapat tertransformasikan secara baik kepada seluruh lapisan masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Sumenep yang senantiasa berkembang dalam kemajemukan, pelaksanaan prinsip ini lebih bersifat “transformatif evolutif”. Oleh karena itu, diperlukan waktu, komitmen pihak yang berperan, dan nuansa yang kondusif untuk berlangsungnya proses dialektis internal warga maupun dengan pihak eksternal, dari posisi adaptasi ke tahap partisipasi aktif, menuju ke arah masyarakat untuk tumbuh dan berkembang dalam perspektif keberlanjutan.
- PROGRAM KERJA
- Memberantas Kemiskinan dan Menyediakan lapangan pekerjaan
Kemiskinan berdampak negatif bagi mesyarakat. Selain tentu membuat seseorang sulit bertahan hidup karena sulit memenuhi kebutuhan hidupnya, kemiskinan juga berpotensi menjadikan seseorang berbuat kriminal. Atas dasar itu tidak bisa ditawar lagi, kemiskinan harus diberantas.
Caranya dengan membantu mereka dalam membuka lapangan pekerjaan atau memasuki dunia kerja. Dalam jangka pendek, hal ini dapat dilakukan dengan mempermudah pinjaman dan izin usaha, juga dapat dilakukan dengan cara mengajarkan mereka keterampilan-keterampilan tertentu sehingga mereka bisa memasuki pasar kerja. Dalam jangka panjang tentu saja dengan memberikan mereka pendidikan murah yang berkualitas, sehingga nantinya mereka akan dapat mengembangkan potensi yang ada pada dirinya.
Salah satu pelaku ekonomi terpenting yang perlu dikembangkan di Kabupaten Sumenepadalah koperasi dan UMKM. Tentu saja ini adalah modal yang baik untuk mengembangkan ekonomi rakyat sehingga berperan besar dalam mengatasi problem kemiskinan dan pengangguran. Saat ini, meskipun jumlahnya besar, tapi kontribusi koperasi dalam penciptaan nilai tambah dan perdagangan masih belum optimal. Oleh karena itu, pada masa mendatang tantangannya bukan hanya menambah koperasi, namun juga memerbaiki kualitas koperasi tersebut. Perbaikan kualitas itu terpantul dalam hal peningkatan penyerapan tenaga kerja, penciptaan nilai tambah, kontribusi terhadap perdagangan pengurangan kemiskinan dan pengangguran, dan lain sebagainya.
Banyak potensi alam yang ada di Sumenep jika dioptimalkan dapat membuat tersedianya lapangan pekerjaan. Pulau-pulau kecil di Sumenep dapat dijadikan tempat wisata sehingga akan membuka lapangan pekerjaan baru. Pantai-pantai di Sumenep juga terkenal indah, hanya butuh pengelolaan yang baik dan benar pantai tersebut akan menjadi pusat wisata dan besar kemungkinan mengalahkan Pulau Dewata Bali.
Di Sumenep juga ada desa Aeng Tong-tong yang merupakan desa para Mpu pembuat keris. Desa Aeng Tong-tong adalah desa pembuatan keris terbesar di Asia Tenggara. Desa tersebut juga dapat dijadikan tempat wisata dengan memanfaatkan keris dan proses pembuatannya sebagai daya tariknya. Juga tentang kearifan lokalnya (local wisdom). Selain itu, kita dapat memfasilitasi dan memasarkan keris buatan Mpu desa Aeng Tong-tong dapat dijual ke mancanegara dengan pendekatan koperasi atau UMKM.
- Pembangunan Sektor Pertanian dan Peternakan
Sensus pertanian yang dilakukan Badan Pusat Statistik Sumenep tahun 2013 mencatat ada 201,93 ribu rumah tangga yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan sektor peternakan berjumlah 179,08 ribu rumah tangga. Terdapat empat hal penting untuk meningkatkan produksi pertanian di Kabupaten Sumenep. Pertama, memanfaatkan daerah kepulauan di Kabupaten Sumenep. Banyak pulau-pulau kecil di Sumenep yang masih belum tersentuh untuk dikelola, salah satunya untuk menjadi lahan bagi pertanian.
Kedua, tersedianya bibit yang berkualitas sekaligus dengan harga terjangkau sehingga petani tidak kesulitan dalam memperoleh bibit saat musim tanam tiba. Ketiga, adalah tersedianya sistem pengairan (irigasi) yang baik. Keempat, terjaminnya ruang untuk menjual asil panen (pasar), dengan begitu para petani tidak bingung akan menjual hasil panennya dimana dan kepada siapa.
Meningkatkan produksi pertanian adalahdengan cara menyediakan lahan yang strategis sertamemfasilitasi petani dengan bibit dan pupuk murah. Lahan baru yang strategis dapat dibuka dengan cara memanfaatkan pulau-pulau kecil yang ada di Kabupaten Sumenep. Beberapa hal yang akan dilakukan. Menyediakan bibit yang berkualitas sekaligus dengan harga terjangkau sehingga petani tidak kesulitan dalam memperoleh bibit saat musim tanam tiba. Menyediakan sistem pengairan (irigasi) yang baik, inilah yang dimaksud lahan strategis. Menjamin ruang untuk menjual hasil panen (pasar), dengan begitu para petani tidak bingung akan menjual hasil panennya di mana dan kepada siapa.
Menjamin ketersediaan pangan juga dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi peternakan di Sumenep. Sensus peternakan yang dilakukan Badan Pusat Statistik Sumenep tahun 2013 menujukkan jumlah sapi dan kerbau mencapai 333,77 ribu ekor, terdiri dari 328,76 ekor sapi potong dan 5,02 ribu ekor kerbau. Hasil tersebut bisa terus ditingkatkan dengan cara menjamin keberadaan bibit ternak sekaligus pakannya. Apabila pemerintah perhatian, maka sektor ternak dapat berjalan dengan baik dan warga Sumenep tidak perlu jauh-jauh pergi ke kabupaten lain untuk memenuhi kebutuhannya akan ternak. Malah Sumenep dapat menjualnya pada kabupaten lain. Data ini cukup menggembirakan karena potensi ternak di Sumenep dapat mencukupi kebutuhan warganya. Untuk itu, pemerintah harus ikut mendorong kemajuan peternakan Sumenep dengan menjamin keberadaan bibit ternak sekaligus pakannya. Apabila pemerintah perhatian, maka sektor ternak dapat berjalan dengan baik dan warga Sumenep tidak perlu jauh-jauh pergi ke kabupaten lain untuk memenuhi kebutuhannya akan ternak.
- Pengembangan Sektor Kelautan dan Perikanan
Jumlah produksi sektor perikanan laut memperlihatkan jumlah paling tinggi.Menurut catatan tahun 2010 produksi perikanan laut di Kabupaten Sumenep mencapai 44.900,2 ton. Selain produk ikan segar di Kabupaten Sumenep juga dihasilkan ikan kering dan ikan asapan serta terasi.
Bahkan untuk ikan asapan Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan produksi sebanyak 4.208,01 ton, sementara itu ikan kering sebanyak 9.600,02 ton dan terasi sebanyak 2.584,39 ton kalaupun produksinya berlebih biasanya masih jauh dari potensi yang sebenarnya ada.
Dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya. Keberadaan industri pengolahan perikanan di Kabupaten Sumenep yang berskala rumah tangga dengan jumlah yang cukup banyak dapat merangsang pertumbuhan sektor perikanan agar lebih meningkat lagi. Namun keberadaan industri pengolahan perikanan Kabupaten Sumenep mengalami penurunan kinerja kawasan yang disebabkan menurunnya jumlah industri pengolahan perikanan dalam beberapa tahun terakhir ini. Pada tahun 2013 tercatat jumlah industri pengolahan perikanan berskala rumah tangga di Kabupaten Sumenep adalah 8.705 unit, angka ini mengalami penurunan dari tahun 2010 yang berjumlah 9.325 industri pengolahan perikanan.
Salah satu penyebab menurunnya jumlah industri pengolahan ikan di Kabupaten Sumenep, ialah tidak mampubersaing dengan pasar yang disebabkan kurangnya inovasi dalam mengelola hasil ikan yang sesuai dengan permintaan pasar. Sementara itu dalam proses pengolahannya belum didukung dengan lokasi yang memadai, karena industri yang ada berupa industri rumah tangga. Sehingga segala aktivitas pengolahannya dilakukan di lokasi permukiman warga. Masyarakat pengolah ikan memanfaatkan lokasi seadanya untuk mengolah ikan.
Dengan demikian, pengembangan dan industri pengolahan ikan di Kabupaten Sumenep harus mendapatkan prioritas. Memanfaatkan laut adalah sebuah keharusan. Karenanya nelayan Sumenep harus difasilitasi baik dengan diberi perahu murah, alat tangkap murah serta koperasi khusus nelayan supaya nelayan sewaktu-waktu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya meskipun tidak mendapat hasil tangkapan. Faktor-faktor yang menentukan pengembangan industri pengolahan perikanan Kabupaten Sumenep yang harus disediakan oleh pemerintah adalah:
- Ketersediaan bahan baku sumberdaya perikanan.
- Kontinuitas bahan baku sumberdaya perikanan
- Potensi tenaga kerja di wilayah penelitian
- Ketersediaan pengolah ikan untuk industri pengolahan perikanan
- Ketersediaan nelayan untuk menunjang pengembangan industri pengolahan perikanan.
- Ketersediaan jaringan listrik untuk industri pengolahan perikanan.
- Ketersediaan jaringan air bersih untuk industri pengolahan perikanan
- Ketersediaan jaringan jalan untuk menunjang pengembangan industri pengolahan perikanan.
- Keberadaan sarana dan prasarana perikanan untuk menunjang pengembangan industri pengolahan perikanan, semisal cold storage maupun pabrik es yang memiliki peran penting dalam pengawetan ikan hasil tangkapan.
- Keberadaan industri pengolahan perikanan untuk menunjang pengembangan industri. Dari 20 kecamatan didapatkan 8 kecamatan prioritas yang berpotensi dikembangkan untuk industri pengolahan perikanan di Kabupaten Sumenep, antara lain adalah: Kecamatan Dungkek, Kecamatan Sapeken, Kecamatan Ambunten, Kecamatan Pragaan, Kecamatan Masalembu, Kecamatan Raas, Kecamatan Pasongsongan, Kecamatan Nonggunong
- Pembangunan Infrastruktur di Kepulauan
Tingkat elektrifikasi daerah terpencil dan kepulauan harus dilakukan sehingga pembangunan bisa dirasakan sampai daerah terluar Kabupaten Sumenep. Kabupaten Sumenep mempunyai banyak pulau kecil berbentuk gugusan pulau. Dari 25 kecamatan, 9 diantaranya memiliki pulau. Jumlah pulau di kabupaten ini sekitar 126 pulau. Ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Sumenep dapat disebut dengan kabupaten kepulauan. Karena itu, tak salah bila daerah ini mempunyai karakteristik unik, yakni kehidupan penduduknya tidak jauh dari sektor kelautan dan perikanan. Diantara gugusan kepulauan di Sumenep adalah Kangean, Sapeken, Sapudi, Raas, Puteran, Genteng, Gili Iyang, Pulau Raja dan Masalembu. Kawasan kepulauan tersebut bias disebut sebagai objek wisata Island Resort.
Sebagai contoh adalah Kepulauan Kangean memiliki potensi wisata bahari yang berlimpah. Kepulauan Kangean adalah gugusan pulau yang merupakan bagian paling timur dari Pulau Madura. Kepulauan Kangean memiliki beberapa pulau yang berlimpah daya tarik wisatanya yang menonjol dengan keindahan pantai dan terumbu karangnya, diantaranya Pulau Kangean, Pulau Paliat, dan Pulau Sepanjang yang pada tahun 2016 akan menjadi tuan rumah International Atlantic Challenge. Promosi menjadi bagian yang penting menjelang diberlangsungkannya even Internasional tersebut.
Prioritas pengembangan kepulauan di Sumenep bisa melalui wisata bahari yang meliputi pengembangan sumber daya alam, sumber daya manusia, pengembangan produk wisata, sarana dan prasarana, dan promosi wisata. Perihal penting dalam menghubungkan gugusan kepulauan di Sumenep ini adalah percepatan pembangunan infrastruktur. Selama ini Sumenep memiliki sarana transportasi Terminal Bus Arya Wiraraja yang melayanai seluruh penumpang dari luar Sumenep, Pelabuhan Kalianget yang melayani jalur transportasi laut di Sumenep, dan Bandar Udara Trunojoyo.
Oleh karena itu, pembangunan pelabuhan yang menghubungkan antara pulau harus dibangun agar tiap kepulauan terhubung dengan baik. Selanjutnya jalan penghubung di tiap pulau yang menuju pelabuhan juga harus dilakukan percepatan pembangun. Pembangunan pelabuhan kecil menjadi kebutuhan utama di kepulauan Sumenep. Begitu juga dengan Bandar udara perintis sebagai penghubung untuk mempermudah akses laju pembangunan dan mempermudah alur barang dan jasa di seluruh kepulauan yang terdapat di Sumenep.
Apabila percepatan pembangunan itu dilakukan, maka masyarakat Sumenep memiliki keuntungan karena akses infrastruktur terutama transportasi yang dibangun dapat mempercepat peningkatan perekonomian di kepulauan yang terdapat di Sumenep, baik melalui wisata bahari, konservasi dan pengangkutan alur barang dan jasa melalui sektor perikanan, pereternakan serta pertanian yang saling terhubung.
- Jaminan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas
Berdasarkan studi kesehatan tahun 2013, masalah yang dihadapi oleh Kabupaten Sumenep adalah kurangnya pendidikan dini tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Hal penting yang tidak bisa dilupakan dalam pembangunan sektor kesehatan adalah masalah sanitasi dan mengatasi problem limbah pembuangan rumah tangga. Kepemilikan Jamban di Kabupaten Sumenep adalah79,1 % dari jumlah KK, 4% menggunakan MCK / WC Umum, dan sisanya 16,9% masih BABS menggunakan WC Helicopter, ke sungai, pantai, laut, kebun, pekarangan, selokan, parit, got, dan lain-lain.
Keterangan:
Jumlah Penduduk Kabupaten Sumenep tahun 2013 sebesar 1.053.640 jiwa atau 320.275 üKK
Jumlah penduduk Perkotaan tahun 2013 sebesar 71.524 Jiwa atau 18.477 KK ü
Kepemilikan akses Jamban Pribadiü & MCK = 83,1% % (266.149 KK)
BABS = 16,9%( 220.211 jiwa atau 54.126 KK) yang meliputi: ü
- BABS di WC helicopter = 0,80 % (2562 KK atau 8.429 jiwa)
- BABS di Sungai/pantai/laut = 9,05 % (28.984 KK atau 95.354 jiwa)
- BABS di Kebun/Pekarangan = 4.50 % (14.412 KK atau 47.413 jiwa)
- BABS di Selokan/parit/got = 1,40 % (4.483 KK atau 14.750 jiwa)
- BABS di Lubang galian = 0,95 % (3.042 KK atau 10.010 jiwa)
- BABS Tidak tahu = 0,20% (640 KK atau 2.107 jiwa)
- PembangunanAkses Pendidikan yang Berakhlak
Sebagai upaya meningkatkan indeks
pembangunan manusia (IPM), maka pelayanan pendidikan (dalam
pengertian luas) harus juga dibuka selebar-lebarnya, di samping
harus diikuti dengan peningkatan kualitas pengajaran secara maksimal.
Pendidikan di sini termasuk memberikan tekanan kepada penguatan
pesantren, sebab Kabupaten Sumenep merupakan komunitas
religius yang memiliki jumlah pesantren yang luar biasa banyak.
Siswa di pesantren bukan hanya dari Sumenep dan Jatim, tapi hampir
dari seluruh pelosok nusantara, bahkan sebagian dari luar negeri.
Oleh karena itu, perhatian yang besar harus diberikan
pemerintah daerah kepada pesantren tersebut. Berpijak pada tujuan
ini, maka diperlukan program yang intinya bisa mencapai
tujuan tersebut. Program tersebut adalah pemerataan akses pendidikan.Selain itu, program sekolah gratis 12 tahun harus diwujudkan dengan baik dan benar supaya tidak ada penyelewengan baik dari pihak pemerintah maupun pihak sekolah, sehingga tidak ada lagi anak yang putus sekolah di tengah masih berlangsungnya proses pendidikan baginya. Terdapat tiga hal penting dalam upaya membangun pendidikan yang terjangkau dan memeiliki karakter di Kabupaten Sumenep. Pertama, fasilitas sekolah yang memadai dengan tersedianya infrastruktur yang layak huni bagi siswa dan tersedianya buku-buku tanpa memungut biaya dari siswa.Kedua, tersedianya tenaga pengajar yang berkualitas dan mumpuni di bidangnya masing-masing.
Ketiga, membangun substansi pendidikan yang berkarakter dengan pendekatan pembangunan akhlak. Masyarakat Sumenep selama ini terkenal dengan masyarakat yang berakhlak islami dan berkultur santri. Secara budaya, masyarakat santri di Pulau Madura memiliki pandangan hidup bahwa ajaran agama, terutama islam mengajarkan menjalani kehidupan demi pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat. Substansi pendidikan dan ibadah agama harus dilaksanakan dengan penuh ketekunan dan ketaatan karena masyarakat Madura sadar dan yakin bahwa ngajhi bandhana akherat (mengaji merupakan bekal akhirat). Untuk itulah kegiatan aekhteyar (berusaha keras) di dunia dan demi tujuan akhirat yang identik dengan masyarakat Sumenep dapat turut mendorong tujuan pembangunan.
Pembangunan pendidikan juga beririsan dengan pembangunan masyarakat dalam mempersiapkan lulusan yang siap kerja. Semakin bertambahnya usia angkatan sekolah dan kerja di Kabupaten Sumenep ke depan harus diimbangi dengan pelatihan-pelatihan peserta didik untuk menghadapi dunia kerja dengan bekerja sama dengan institusi pendidikan sehingga pembangunan pendidikan berintegrasi dengan kesiapan lulusan yang siap kerja agar memiliki ketrampilan dan daya saing yang tinggi. Marilah kita merapatkan barisan untuk mewujudkan Kabupaten Sumenep yang makmur, sejahtera, cerdas dan berakhlak.
- Pelayanan Publik
Terdapat dua indikator untuk mengukur keberhasilan langkah ini, yakni sistem anggaran berbasis kinerja yang saat ini masih berpatokan pada tingkat input – output harus diubah berdasarkan outcome.
Kedua, standarisasi pelayanan publik. Keberhasilan program ini diindikasikan dengan beberapa indikator :
- Adanya pengembangan sistem pengukuran indikator kinerja pelayanan public.
- Pengembangan sistem pelaporan dan evaluasi kinerja pelayanan publik sebesar.
- Perlindungan Ibu dan Anak
Isu mengenai perlindungan ibu dan anak sering kali terlupakan dalam formulasi berbagai kebijakan (termasuk kebijakan pembangunan). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika berbagai kebijakan yang diintrodusir kerap kali memberikan beban dan menimbulkan penderitaan bagi kaum hawa. Pembangunan perlindungan ibu dan anak di samping menciptakan perbaikan kehidupan ekonomi masyarakat juga memperpendek kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Isu ini sangat relevan dikaitkan dengan Kabupaten Sumenep karena merupakan salah satu daerah yang warga perempuannya banyak berprofesi sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri.
Oleh karena itu, harus terdapat kebijakan khusus yang intinya memberikan perlindungan bagi mereka, baik ketika akan berangkat, sedang bekerja, dan tiba lagi di kampung halaman. Dalam jangka panjang, profesi ini harus direduksi dan digantikan dengan berbagai lapangan pekerjaan yang lebih baik yang ada di Kabupaten Sumenep Lebih lanjut, dalam konteks perlindungan TKW ini, keikutsertaan TKW dalam vocational training pascakepulangan masih belum ada. Kegiatan ini harus dilakukan sehingga mulai tahun 2016 telah terdapat TKW yang pulang mengikuti vocational training.
Selanjutnya, isu lain yang sering luput adalah upaya pencegahan dan penanganan trafficking. Program ini dalam beberapa tahun ke depan ditargetkan menjadi lebih baik. Isu perlindungan anak juga tidak kalah penting mengingat beberapa persoalan seputar anak yang memerlukan perhatian besar, di antaranya rendahnya kesadaran perlindungan anak di masyarakat, masih adanya perdagangan anak, cenderung meningkatnya kekerasan terhadap anak, masih tingginya anak usia sekolah yang tidak lagi mengenyam pendidikan, masih tingginya angka kenakalan remaja dan anak-anak, meningkatnya korban anak-anak terlantar dan anak jalanan, dan masih minimnya pendampingan anak yang harus diberikan pelatihan dan pemahaman pelatihan kepemimpinan bagi anak.
Beberapa program-program terkait dengan isu perlindungan anak yang akan dilakukan adalah :
- Kegiatan pengawasan dan penindakan terhadap kejahatan kekerasan terhadap anak dan perdagangan anak.
- Pembangunan pusat rehabilitasi dan keterampilan terhadap anak-anak putus sekolah.
- Pembinaan kepada anak korban kekerasan, anak jalanan dan perdagangan anak
- Pendirian Pusat Kegiatan Seni dan Keterampilan bagi anak Jalanan dan Putus Sekolah.
- Pembentukan Forum Anak.
- Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
- Membangun Sumenep sebagai Kabupaten Pariwisata dan Sejarah
Banyak hal yang bisa dikembangkan di Sumenep semisal memfasilitasi dan mempertahankan atsitektur khas Sumenep dan peninggalan arsitektur Kolonial di Kabupaten Sumenep. Terdapat beberapa jenis potensi wisata di Kabupaten Sumenep. Pertama, tempat sejarah budaya dan arsitektur yang meliputi Museum Keraton Sumenep, Masjid Jamik Sumenep, Kota Tua Kalianget dan Benteng VOC Kalimo’ok di Kalianget. Kedua, wisata religi dan ziarah yang meilputi Asta Karang Sabu, Kompleks Pemakaman Asta Tinggi, Asta Yusuf dan Asta Katandur. Ketiga, Wisata Laut dan Alam meliputi Pantai Slopeng, Goa Jeruk Asta Tinggi, Taman Air Kiermata di Kecamatan Saronggi, Goa Kuning dai Kangean dan Goa Payudan di Guluk-guluk, Wisata Taman Laut Mamburit Pulau Arjasa, Wisata Taman Laut Gililabak Pulau Talango dan Pantai Pasir Putih dan Terumbu Karang Saor Sapeken. Keempat, Wisata Konservasi yang meliputi Ayam Bekisar Sumenep di Pulau Kangean, Kijamh di hutan Arjasa dan Cemara Udang di pantai Lombang.
Semua ini bisa dikembangkan menjadi paket wisata yang juga terhubung dengan kabupaten laiannya di Madura dan bahkan di Jawa Timur dengan konsep Five Days In Madura and East Java. Jadi para wisatawan memerlukan minimal 3 hari untuk tinggal dan menikmati pariwisata di Sumenep dan2 hari sebelumnya bisa dimanfaatkan mampir terlebih dahulu di Surabaya, Bangkalan, Sampang atau Pamekasan. Tujuan akhir perjalanan pariwisata ini adalah di Sumenep dan puncaknya menikmati keindahan Sumenep beserta potensi wisata dan kulinernya yang penuh dengan nuansa budaya dan sejarah.
- PENUTUP
Demikianlah visi dan misi sebagai Calon Bupati Sumenep 2015-2020 dibuat guna menjadikan Kabupaten Sumenep yang tercinta ini menjadi lebih makmur lagi, menjadi lebuh cerdas dan semakin berakhlak. Semoga semua ini membawa kebaikan dan perbaikan bagi Kabupaten Sumenep.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dr. Ir. H. Zainal Abidin MM., ME., Tetala : Gapura Sumenep, Agustus 1954 Riwayat Pendidikan : 7. SD Negeri Bluto Sumenep 8. SMP Negeri 1 Sumenep 9. SMA Negeri 1 Sumenep 10. Strata Satu Teknik Kimia ITS Surabaya 11. Pasca Sarjana Perencanaan Regional Universitas Brawijaya Malang 12. Doktoral Ilmu Ekonomi Pembangunan Universitas Brawijaya Malang Riwayat Pekerjaan : 1. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur 2. Kepala Badan Pendapatan Daerah Jawa Timur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar