Mewujudkan Sumenep Makmur Cerdas dan Berakhlak
- PENDAHULUAN
Selama 13 tahun reformasi, pembangunan di Pulau Madura yang kita
cintai belum menghasilkan kemajuan cukup berarti. Beberapa indikator
pembangunan dan pertumbuhan masih terhambat dan berpacu dengan
berbagai permasalahan yang hadir nyata dirasakan dalam keseharian hidup
rakyat. Pelan-pelan tetapi pasti sebagian permasalahan tersebut
telah berubah menjadi penghambat pembangunan dan kemajuan. Kita
bersama terpanggil untuk secara aktif memecahkan permasalahan
yang bersifat mendesak. Permasalahan dasar di Pulau Madura
pada intinya dapat dikelompokkan menjadi 2 kategori. Pertama,
permasalahan sosial-ekonomi. Kedua, permasalahan yang terkait
dengan politik dan budaya, berupa kebijakan pemerintah, baik
nasional, provinsi, kabupaten/kota, khususnya di dalam
mengimplementasikan Otonomi Daerah.
Pulau Madura merupakan sebuah pulau yang menyimpan potensi
alam yang kaya. Sumenep merupakan salah satu kabupaten di Pulau
Madura yang terkenal dengan potensi alam yang indah dan
memiliki keragaman budaya. Untuk membangun dan menjadikan
Sumenep menjadi sebuah kabupaten yang makmur dan sejahtera
diperlukan adanya kepemimpinan yang berintegritas dan bersih.
Kabupaten Sumenep memiliki luas wilayah 2.093,45 km² dengan
ibu kotanya ialah Kota Sumenep. Luas Wilayah Kabupaten Sumenep
terbagi ke dalam pemukiman seluas 179,324696 km², areal hutan seluas
423,958 km², rumput tanah kosong seluas 14,680877 km², untuk
perkebunan/tegalan/semak belukar/ladang seluas 1.130,190914 km²,
untuk kolam/pertambakan/air payau/danau/waduk/rawa seluas 59,07 km²,
dan lain-lainnya seluas 63,413086 km². Untuk luas lautan
Kabupaten Sumenep yang potensial dengan keanekaragaman sumber
daya kelautan dan perikanannya seluas kurang lebih 50.000 km².
Kabupaten Sumenep yang berada di ujung timur Pulau Madura
inimerupakan wilayah yang unik karena terdiri wilayah daratan
dengan pulau yang tersebar berjumlah 126 pulau ( berdasarkan
hasil sinkronisasi Luas Wilayah Kabupaten Sumenep ) yang terletak
di antara 113°32’54”-116°16’48” Bujur Timur dan di antara 4°55′-7°24′
Lintang Selatan.
Jumlah pulau berpenghuni di Kabupaten Sumenep hanya 48 pulau atau
38%, sedangkan pulau yang tidak berpenghuni sebanyak 78 pulau atau
62%. Pulau Karamian di Kecamatan Masalembu adalah pulau terluar di
bagian utara yang berdekatan dengan Kalimantan Selatan, sedangkan Pulau
Sakala merupakan pulau terluar di bagian timur yang berdekatan
dengan Pulau Sulawesi . Pulau yang paling utara adalah Pulau
Karamian dalam gugusan Kepulauan Masalembu dan pulau yang paling
timur adalah Pulau Sakala. Perbatasan dengan daerah
sekitarnyaadalah Sebelah selatan berbatasan dengan Selat Madura
dan Laut Bali, Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa,
Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan, Sebelah Timur
berbatasan dengan Laut Jawa dan Laut Flores.
Kondisi demografi atau kependudukan di Kabupaten Sumenep dapat
digambarkan melalui jumlah penduduk dan pertumbuhan penduduk. Jumlah
penduduk Kabupaten Sumenep sampai tahun 2014 menurut Badan Pusat
Statistik berjumlah adalah 1.071.591 jiwa. Dengan kondisi demografi
ini, kemakmuran Kabupaten Sumenep ke depan akan terwujud manakala
pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan bertekad untuk
bermujahadah memerangi kemiskinan dengan membuat terciptanya
kesempatan kerja bagi masyarakat Sumenep. Tentu saja, perhatian
terhadap ketenagakerjaan tidak hanya difokuskan pada berapa
besar jumlah kesempatan kerja yang dibentuk, tetapi juga perlu
diperhatikan kualitasnya.
Otonomi daerah yang menguat setelah era reformasi merupakan
tuntutan sebuah kabupaten supaya senantiasa dapat mengelola
sumber daya alam dan keragaman budayanya demi kemakmuran,
kecerdasan dan pembangunan Kabupaten Sumenep sesuai amanat yang
diberikan oleh Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan hal
itu, maka pembangunan di Sumenep dapat dimulai melali sektor
pertanian dan peternakan, pendidikan dan kesehatan serta pembangunan
mental. Sektor pertanian dan peternakan merupakan salah satu
kekuatan ekonomi di Kabupaten Sumenep.Para petani ke depan tidak
boleh meninggalkan lahan garapannya dan pindah bekerja ke sektor lain.
Petani dan peternak yang telah meninggalkan sektor ini diharapkan
kembali untuk bercocok tanam dan beternak dalam Pengembangan Usaha
Agribisnis Pedesaan (PUAP), sehingga program ini harus memperoleh
prioritas perhatian dan dukungan. Demi kemakmuran bersama,
pembangunan infrastruktur strategis.
Jembatan Suramadu telah menghubungkan antara Pulau Jawa dan Madura
menjadi arus barang dan jasa dia antara kedua pulau ini berjalan dengan
cepat. Dengan terbangunnya infrastruktur ini, maka dengan adanya
Jembatan Suramadu sebagai akses harus dapat berjalan beriringan dengan
percepatan pembangunan di Pulau Madura khususnya di Kabupaten
Sumenep yang terletak di ujung timur Pulau Madura. Selain itu,
pembangunan sektor pendidikan dan juga kesehatan dengan pendekatan
karakter yang berakhlak harus bisa dilaksanakan di Kabupaten Sumenep
sehingga tetap menjadikan kabupaten di ujung timur Pulau Madura
ini memiliki karakter yang berakhlak.
- MODAL SOSIAL
Tatanan kehidupan secara paralel digerakkan oleh aspek
ekonomi, politik, dan sosial secara bersamaan. Ketiganya
merupakan mata air kehidupan yang harus berjalan selaras
sehingga bisa mendukung perputaran kehidupan. Oleh karena itu,
jika melihat konstitusi (UUD 1945) dan Pancasila, maka kita
akan melihat betapa luar biasanya jangkauan visi para pendiri
negara ini. Mereka bukan hanya mengerti bahwa ketiga bidang ini
merupakan nyawa kehidupan, namun juga
memahami bahwa ketiganya harus berjalan harmonis sehingga
nilai-nilai yang menggerakkannya tidak bertabrakan satu dengan
lainnya. Secara implisit dan eksplisit disebutkan bahwa jiwa dari
politik Indonesia adalah musyawarah (permuswaratan rakyat yang
dibimbing oleh hikmah dan kebijaksanaan), sedangkan jiwa ekonomi
adalah kekeluargaan (perekonomian disusun sebagai usaha berdasar
kekeluargaan), dan sistem sosial yang bertumpu kepada gotong
royong (bukan individual).
Saripati konstitusi dan Pancasila itu membentuk karakter dan
jati diri bangsa sehingga membentuk sistem politik, ekonomi, dan
sosial yang lengkap dan saling mendukung. Demokrasi politik di
Indonesia sebetulnya bukanlah demokrasi “satu orang satu suara”
seperti yang dijalankan selama ini, namun demokrasi yang bertumpu
kepada pengetahuan dan kebijakan bersama sehingga setiap keputusan
diambil berdasarkan musyawarah. Sistem ekonomi merupakan
akumulasi dari kegiatan kolektif, bukan semangat persaingan
antarindividu yang saling mematikan, sehingga bangun kegiatan
ekonomi yang cocok adalah koperasi. Sementara itu, sistem
sosial-budaya masyarakat adalah gotong royong yang menandai semangat
kolektivisme tersebut sehingga tujuan persatuan bangsa dapat
terwujud.
Masyarakat Sumenep memiliki modal sosial cukup handal. Elemen modal
sosial yang melekat di dalam perilaku penduduk telah ikut
menentukan perkembangan Kabupaten Sumenepdari waktu ke waktu.
Tetapi, tidak dapat dihindari, dengan semakin terbukanya sarana
komunikasi dan informasi serta meluasnya interaksi masyarakat, modal
sosial sebagai sandaran masyarakat Sumenep secara pelan-pelan tetapi
pasti kian digantikan oleh berbagai elemen baru berbasiskan materi
dan bersifat artifisial untuk kepentingan jangka pendek.
Modernisasi ekonomi dianggap merupakan bagian dari elemen penting
yang dianggap mengoyak modal sosial tersebut, antara lain
akibat orientasi pembangunan ekonomi yang terlalu memuja
kepemilikan material. Masyarakat disiapkan dengan sistem dan
kegiatan ekonomi yang fokusnya kepada akumulasi material
sehingga menempatkan persaingan antarindividu maupun kelompok menjadi
suatu keniscayaan.
Di sini kemudian ada yang hilang dalam sistem kehidupan secara
keseluruhan. Keselarasan dan harmoni sosial meredup digantikan
semangat persaingan keras demi meraih kekayaan material. Konsep
kepercayaan atau saling percaya (trust), kejujuran, kohesivitas
atau kekentalan dalam jaringan hubungan antarindividu maupun
kelompok, empati, saling menghormati dan menghargai, gotong-royong
dan kerjasama, yang sebenarnya memiliki pengaruh cukup besar
terhadap pertumbuhan kemakmuran ekonomi dan ketenteraman masyarakat
hilang sedikit demi sedikit.
Oleh karena itu, pemerintah (pusat maupun daerah) diharapkan
mengembalikan jati diri bangsa tadi, khususnya di bidang sosial,
sebagai sarana memulihkan kekayaan sosial dan budaya
masyarakat sebagai penopang kehidupan politik dan ekonomi.
Melalui beragam mekanisme dan kebijkan Pemerintah Daerah, maka
partisipasi masyarakat dalam mengaktualisasikan elemen modal
sosial sebagai proses demokrasi yang membebaskan dan
menyejahterakan serta meningkatnya rasa tanggung jawab birokrasi
terhadap layanan kepentingan publik dapat direvitalisasi
dan ditumbuhkembangkan. Keterlibatan masyarakat dalam semua bidang
merupakan hal yang niscaya karena di situlah letak kemanusiaan
yang sesungguhnya. Rakyat harus memiliki ruang mengekspresikan
gagasan dan pikirannya secara penuh diberbagai bidang sehingga
terbentuk kepercayaan diri. Sementara itu, pemerintah daerah yang
menjadi fasilitator dan regulator mesti benar-benar mengarahkan
kebijakan dan layanan yang dijaalankan semata-mata untuk
kepentingan hajat publik. Jika kedua hal itu dapat mewujud secara nyata,
maka modal sosial yang dimiliki bukan hanya bisa dirawat tetapi
juga menjadi dasar pembangunan ekonomi dan politik di
Kabupaten Sumenep.
- VISI DAN MISI
Visi : Mewujudkan Sumenep Makmur Cerdas dan Berakhlak
MISI :
- Meningkatkan ekonomi serta menyediakan lapangan pekerjaan seluas-luasnya.
- Menjamin ketersediaan pangan.
- Pendidikan gratis 12 tahun dengan kualitas baik.
- Memaksimalkan potensi pertanian dan kelautan.
- Memaksimalkan potensi ekonomi pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumenep.
- Membangun substansi pendidikan berkarakter yang berpondasikan akhlaqul
karimah.
- STRATEGI DAN PENDEKATAN
Undang Undang Dasar 1945 mengamanatkan agar pembangunan
nasional lebih diarahkan untuk terwujudnya kemakmuran,
kesejahteraan, dan kemandirian masyarakat. Visi kemandirian yang
berakar pada kesadaran prinsip demokrasi di dalam berkarsa dan
berkarya ini dapat dicapai manakala masyarakat dapat sepenuhnya
berperan aktif di dalam setiap tahapan proses
kegiatan pembangunan yakni dengan paradigma pembangunan bertumpu
pada rakyat (people centered-development). Argumen pokok
pertimbangan ini didasarkan pada pendekatan bahwa
yang sebenarnya merasakan adanya masalah, kebutuhan pemecahan,
dan manfaat keberadaan suatu kehidupan sosial-ekonomis yang sehat
adalah penduduk setempat itu sendiri.
Pemikiran tersebut telah mengakibatkan adanya pergeseran “pendekatan
dari atas” (top-down) menjadi dan bertitik temu dengan
“pendekatan dari bawah” (bottom-up), serta dari
standarisasi terpusat menjadi penganekaragaman kreativitas dan
produktivitas lokal.Perubahan dan pergeseran ini akan berjalan
dengan baik dan mencapai sasaran manakala informasi pembangunan
yang menyangkut kebijakan, permasalahan, dan sumber daya yang
diperlukan dapat tertransformasikan secara baik kepada seluruh
lapisan masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Sumenep
yang senantiasa berkembang dalam kemajemukan, pelaksanaan prinsip
ini lebih bersifat “transformatif evolutif”. Oleh karena itu,
diperlukan waktu, komitmen pihak yang berperan, dan nuansa
yang kondusif untuk berlangsungnya proses dialektis internal
warga maupun dengan pihak eksternal, dari posisi adaptasi ke
tahap partisipasi aktif, menuju ke arah masyarakat untuk
tumbuh dan berkembang dalam perspektif keberlanjutan.
- PROGRAM KERJA
- Memberantas Kemiskinan dan Menyediakan lapangan pekerjaan
Pengangguran dan kemiskinan masih tetap menjadi permasalahan
serius, tak terkecuali di Kabupaten Sumenep. Oleh karena itu,
untuk mengatasi atau setidaknya mereduksi masalah ini,
diperlukan strategi pembangunan yang intinya bisa memicu
pertumbuhan ekonomi yang berbasis partisipasi rakyat dan akhirnya
berimbas pada pengurangan jumlah pengangguran dan kemiskinan.
Kemiskinan berdampak negatif bagi mesyarakat. Selain tentu membuat
seseorang sulit bertahan hidup karena sulit memenuhi kebutuhan
hidupnya, kemiskinan juga berpotensi menjadikan seseorang berbuat
kriminal. Atas dasar itu tidak bisa ditawar lagi, kemiskinan
harus diberantas.
Caranya dengan membantu mereka dalam membuka lapangan
pekerjaan atau memasuki dunia kerja. Dalam jangka pendek, hal ini
dapat dilakukan dengan mempermudah pinjaman dan izin usaha, juga dapat
dilakukan dengan cara mengajarkan mereka keterampilan-keterampilan
tertentu sehingga mereka bisa memasuki pasar kerja. Dalam jangka
panjang tentu saja dengan memberikan mereka pendidikan murah yang
berkualitas, sehingga nantinya mereka akan dapat mengembangkan
potensi yang ada pada dirinya.
Salah satu pelaku ekonomi terpenting yang perlu dikembangkan di
Kabupaten Sumenepadalah koperasi dan UMKM. Tentu saja ini adalah modal
yang baik untuk mengembangkan ekonomi rakyat sehingga berperan besar
dalam mengatasi problem kemiskinan dan pengangguran. Saat
ini, meskipun jumlahnya besar, tapi kontribusi koperasi dalam
penciptaan nilai tambah dan perdagangan masih belum optimal. Oleh karena
itu, pada masa mendatang tantangannya bukan hanya menambah koperasi,
namun juga memerbaiki kualitas koperasi tersebut. Perbaikan kualitas itu
terpantul dalam hal peningkatan penyerapan tenaga kerja, penciptaan
nilai tambah, kontribusi terhadap perdagangan pengurangan kemiskinan dan
pengangguran, dan lain sebagainya.
Banyak potensi alam yang ada di Sumenep jika dioptimalkan
dapat membuat tersedianya lapangan pekerjaan. Pulau-pulau kecil
di Sumenep dapat dijadikan tempat wisata sehingga akan membuka
lapangan pekerjaan baru. Pantai-pantai di Sumenep juga terkenal
indah, hanya butuh pengelolaan yang baik dan benar pantai tersebut
akan menjadi pusat wisata dan besar kemungkinan mengalahkan Pulau Dewata
Bali.
Di Sumenep juga ada desa Aeng Tong-tong yang merupakan desa para Mpu
pembuat keris. Desa Aeng Tong-tong adalah desa pembuatan keris terbesar
di Asia Tenggara. Desa tersebut juga dapat dijadikan tempat wisata
dengan memanfaatkan keris dan proses pembuatannya sebagai
daya tariknya. Juga tentang kearifan lokalnya (local wisdom).
Selain itu, kita dapat memfasilitasi dan memasarkan keris buatan
Mpu desa Aeng Tong-tong dapat dijual ke mancanegara
dengan pendekatan koperasi atau UMKM.
- Pembangunan Sektor Pertanian dan Peternakan
Sektor pertanian dan peternakan di Kabupaten Sumenep menyimpan
potensi ekonomi yang dapat memakmurkan dan mensejahterakan
masyarakatnya. Pada tahun 2013, lahan pertanian Sumenep yang
tersebar di 24 kecamatan tercatat hanya tersisa sekitar 25
ribu hektare. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling
banyak digarap oleh warga Sumenep untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
Sensus pertanian yang dilakukan Badan Pusat Statistik Sumenep
tahun 2013 mencatat ada 201,93 ribu rumah tangga yang
menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan
sektor peternakan berjumlah 179,08 ribu rumah tangga. Terdapat
empat hal penting untuk meningkatkan produksi pertanian di
Kabupaten Sumenep. Pertama, memanfaatkan daerah kepulauan di
Kabupaten Sumenep. Banyak pulau-pulau kecil di Sumenep yang masih belum
tersentuh untuk dikelola, salah satunya untuk menjadi lahan bagi
pertanian.
Kedua, tersedianya bibit yang berkualitas sekaligus dengan
harga terjangkau sehingga petani tidak kesulitan dalam memperoleh
bibit saat musim tanam tiba. Ketiga, adalah tersedianya
sistem pengairan (irigasi) yang baik. Keempat, terjaminnya ruang untuk
menjual asil panen (pasar), dengan begitu para petani tidak bingung akan
menjual hasil panennya dimana dan kepada siapa.
Meningkatkan produksi pertanian adalahdengan cara menyediakan
lahan yang strategis sertamemfasilitasi petani dengan bibit dan
pupuk murah. Lahan baru yang strategis dapat dibuka dengan cara
memanfaatkan pulau-pulau kecil yang ada di Kabupaten Sumenep. Beberapa
hal yang akan dilakukan. Menyediakan bibit yang berkualitas
sekaligus dengan harga terjangkau sehingga petani tidak kesulitan
dalam memperoleh bibit saat musim tanam tiba. Menyediakan
sistem pengairan (irigasi) yang baik, inilah yang dimaksud lahan
strategis. Menjamin ruang untuk menjual hasil panen (pasar),
dengan begitu para petani tidak bingung akan menjual hasil panennya di
mana dan kepada siapa.
Menjamin ketersediaan pangan juga dapat dilakukan dengan
memaksimalkan potensi peternakan di Sumenep. Sensus peternakan yang
dilakukan Badan Pusat Statistik Sumenep tahun 2013 menujukkan jumlah
sapi dan kerbau mencapai 333,77 ribu ekor, terdiri dari 328,76
ekor sapi potong dan 5,02 ribu ekor kerbau. Hasil tersebut
bisa terus ditingkatkan dengan cara menjamin keberadaan bibit
ternak sekaligus pakannya. Apabila pemerintah perhatian, maka
sektor ternak dapat berjalan dengan baik dan warga Sumenep tidak perlu
jauh-jauh pergi ke kabupaten lain untuk memenuhi kebutuhannya akan
ternak. Malah Sumenep dapat menjualnya pada kabupaten lain. Data ini
cukup menggembirakan karena potensi ternak di Sumenep dapat
mencukupi kebutuhan warganya. Untuk itu, pemerintah harus ikut
mendorong kemajuan peternakan Sumenep dengan menjamin keberadaan
bibit ternak sekaligus pakannya. Apabila pemerintah perhatian,
maka sektor ternak dapat berjalan dengan baik dan warga Sumenep tidak
perlu jauh-jauh pergi ke kabupaten lain untuk memenuhi kebutuhannya akan
ternak.
- Pengembangan Sektor Kelautan dan Perikanan
Sumenep diuntungkan dengan banyaknya pulau-pulau kecil yang
ada di sekitarnya. Oleh karenanya sungguh disayangkan jika
pulau-pulau kecil di sekitarnya tidak dimanfaatkan dengan baik bagi
pengembangan ekonomi. Pulau-pulau tersebut bisa dimanfaatkan selain
untuk lahan pertanian juga dapat dijadikan sebagai tempat wisata yang
mana pantai menjadi fokus utamanya. Sumenep memiliki beberapa pantai
untuk wisata semisal Pantai Lombang dan Pantai Slopeng. Pemanfaatan
sektor ini akan membuat Sumenep menjadi kawasan yang banyak
dikunjungi oleh wisatawan. Selain sektor wisata, laut juga sumber
kehidupan. Kabupaten Sumenep memiliki potensi berbagai jenis hasil
perikanan baik perairan laut beserta hasil olahannya maupun
hasil dari pertambakan.
Jumlah produksi sektor perikanan laut memperlihatkan jumlah
paling tinggi.Menurut catatan tahun 2010 produksi perikanan laut
di Kabupaten Sumenep mencapai 44.900,2 ton. Selain produk ikan
segar di Kabupaten Sumenep juga dihasilkan ikan kering dan ikan asapan
serta terasi.
Bahkan untuk ikan asapan Kabupaten Sumenep mampu menghasilkan
produksi sebanyak 4.208,01 ton, sementara itu ikan kering sebanyak
9.600,02 ton dan terasi sebanyak 2.584,39 ton
kalaupun produksinya berlebih biasanya masih jauh dari potensi yang
sebenarnya ada.
Dengan adanya pembangunan industri maka akan memacu dan
mengangkat pembangunan sektor-sektor lainnya. Keberadaan industri
pengolahan perikanan di Kabupaten Sumenep yang berskala rumah
tangga dengan jumlah yang cukup banyak dapat merangsang
pertumbuhan sektor perikanan agar lebih meningkat lagi. Namun
keberadaan industri pengolahan perikanan Kabupaten Sumenep
mengalami penurunan kinerja kawasan yang disebabkan menurunnya
jumlah industri pengolahan perikanan dalam beberapa tahun
terakhir ini. Pada tahun 2013 tercatat jumlah industri pengolahan
perikanan berskala rumah tangga di Kabupaten Sumenep adalah
8.705 unit, angka ini mengalami penurunan dari tahun 2010 yang
berjumlah 9.325 industri pengolahan perikanan.
Salah satu penyebab menurunnya jumlah industri pengolahan ikan
di Kabupaten Sumenep, ialah tidak mampubersaing dengan pasar yang
disebabkan kurangnya inovasi dalam mengelola hasil ikan yang sesuai
dengan permintaan pasar. Sementara itu dalam proses
pengolahannya belum didukung dengan lokasi yang memadai, karena
industri yang ada berupa industri rumah tangga. Sehingga segala
aktivitas pengolahannya dilakukan di lokasi permukiman warga.
Masyarakat pengolah ikan memanfaatkan lokasi seadanya untuk mengolah
ikan.
Dengan demikian, pengembangan dan industri pengolahan ikan di
Kabupaten Sumenep harus mendapatkan prioritas. Memanfaatkan laut
adalah sebuah keharusan. Karenanya nelayan Sumenep harus difasilitasi
baik dengan diberi perahu murah, alat tangkap murah serta
koperasi khusus nelayan supaya nelayan sewaktu-waktu dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya meskipun tidak mendapat hasil
tangkapan. Faktor-faktor yang menentukan pengembangan industri
pengolahan perikanan Kabupaten Sumenep yang harus disediakan oleh
pemerintah adalah:
- Ketersediaan bahan baku sumberdaya perikanan.
- Kontinuitas bahan baku sumberdaya perikanan
- Potensi tenaga kerja di wilayah penelitian
- Ketersediaan pengolah ikan untuk industri pengolahan perikanan
- Ketersediaan nelayan untuk menunjang pengembangan industri pengolahan perikanan.
- Ketersediaan jaringan listrik untuk industri pengolahan perikanan.
- Ketersediaan jaringan air bersih untuk industri pengolahan perikanan
- Ketersediaan jaringan jalan untuk menunjang pengembangan industri pengolahan perikanan.
- Keberadaan sarana dan prasarana perikanan untuk menunjang
pengembangan industri pengolahan perikanan, semisal cold storage
maupun pabrik es yang memiliki peran penting dalam pengawetan ikan
hasil tangkapan.
- Keberadaan industri pengolahan perikanan untuk menunjang
pengembangan industri. Dari 20 kecamatan didapatkan 8 kecamatan
prioritas yang berpotensi dikembangkan untuk industri pengolahan
perikanan di Kabupaten Sumenep, antara lain adalah: Kecamatan
Dungkek, Kecamatan Sapeken, Kecamatan Ambunten, Kecamatan Pragaan,
Kecamatan Masalembu, Kecamatan Raas, Kecamatan Pasongsongan, Kecamatan
Nonggunong
- Pembangunan Infrastruktur di Kepulauan
Problematika pembangunan infrastruktur selalu menghiasi program
pembangunan di Indonesia karena memiliki arti penting bagi akses
barang dan jasa. Infrastruktur yang akan di bangun
di Kabupaten Sumenep yang pertama adalah yang berkaitan dengan
penunjang ketahanan pangan. Institusionalisasi pasar maupun pasar
induk harus dikuatkan selanjutnya adalah infrastruktur energi.
Tingkat elektrifikasi daerah terpencil dan kepulauan harus
dilakukan sehingga pembangunan bisa dirasakan sampai daerah terluar
Kabupaten Sumenep. Kabupaten Sumenep mempunyai banyak pulau kecil
berbentuk gugusan pulau. Dari 25 kecamatan, 9 diantaranya
memiliki pulau. Jumlah pulau di kabupaten ini sekitar 126
pulau. Ini mengindikasikan bahwa Kabupaten Sumenep dapat disebut
dengan kabupaten kepulauan. Karena itu, tak salah bila daerah ini
mempunyai karakteristik unik, yakni kehidupan penduduknya tidak
jauh dari sektor kelautan dan perikanan. Diantara gugusan
kepulauan di Sumenep adalah Kangean, Sapeken, Sapudi, Raas,
Puteran, Genteng, Gili Iyang, Pulau Raja dan Masalembu.
Kawasan kepulauan tersebut bias disebut sebagai objek wisata Island
Resort.
Sebagai contoh adalah Kepulauan Kangean memiliki potensi
wisata bahari yang berlimpah. Kepulauan Kangean adalah gugusan pulau
yang merupakan bagian paling timur dari Pulau Madura. Kepulauan
Kangean memiliki beberapa pulau yang berlimpah daya tarik
wisatanya yang menonjol dengan keindahan pantai dan terumbu
karangnya, diantaranya Pulau Kangean, Pulau Paliat, dan Pulau
Sepanjang yang pada tahun 2016 akan menjadi tuan rumah International
Atlantic Challenge. Promosi menjadi bagian yang penting menjelang
diberlangsungkannya even Internasional tersebut.
Prioritas pengembangan kepulauan di Sumenep bisa melalui
wisata bahari yang meliputi pengembangan sumber daya alam,
sumber daya manusia, pengembangan produk wisata, sarana dan
prasarana, dan promosi wisata. Perihal penting dalam
menghubungkan gugusan kepulauan di Sumenep ini adalah percepatan
pembangunan infrastruktur. Selama ini Sumenep memiliki
sarana transportasi Terminal Bus Arya Wiraraja yang melayanai
seluruh penumpang dari luar Sumenep, Pelabuhan Kalianget yang
melayani jalur transportasi laut di Sumenep, dan Bandar Udara Trunojoyo.
Oleh karena itu, pembangunan pelabuhan yang menghubungkan antara
pulau harus dibangun agar tiap kepulauan terhubung dengan baik.
Selanjutnya jalan penghubung di tiap pulau yang menuju pelabuhan
juga harus dilakukan percepatan pembangun. Pembangunan pelabuhan
kecil menjadi kebutuhan utama di kepulauan Sumenep. Begitu juga
dengan Bandar udara perintis sebagai penghubung untuk
mempermudah akses laju pembangunan dan mempermudah alur barang
dan jasa di seluruh kepulauan yang terdapat di Sumenep.
Apabila percepatan pembangunan itu dilakukan, maka masyarakat
Sumenep memiliki keuntungan karena akses infrastruktur terutama
transportasi yang dibangun dapat mempercepat peningkatan
perekonomian di kepulauan yang terdapat di Sumenep, baik
melalui wisata bahari, konservasi dan pengangkutan alur barang
dan jasa melalui sektor perikanan, pereternakan serta pertanian
yang saling terhubung.
- Jaminan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas
Menjadi sehat adalah sebuah keutamaan bagi masyarakat dan
kesehatan bagi masyarakat harus menjadi perhatian pemerintah. Jaminan
kesehatan bagi masyarakat dapat diwujudkan melalui pelayanan kesehatan
yang berkualitas dan terjangkau oleh warga yang tidak mampu. Program
dari pemerintah agar masyarakat miskin tetap bisa mendapatkan pelayanan
kesehatan yang berkualitas dan terjangkau bisa dimulai dengan
pemanfaatan puskesmas di setiap kelurahan atau desa yang disertai
dengan fasilitas alat kesehatan serta tenaga medis (dokter, perawat,
bidan) yang berkualitas dan professional. Dengan begitu akses terhadap
layanan kesehatan begitu mudah demi terciptanya kualitas hidup
masyarakat.
Berdasarkan studi kesehatan tahun 2013, masalah yang dihadapi
oleh Kabupaten Sumenep adalah kurangnya pendidikan dini tentang
perilaku hidup bersih dan sehat. Hal penting yang tidak bisa
dilupakan dalam pembangunan sektor kesehatan adalah masalah
sanitasi dan mengatasi problem limbah pembuangan rumah tangga.
Kepemilikan Jamban di Kabupaten Sumenep adalah79,1 % dari jumlah
KK, 4% menggunakan MCK / WC Umum, dan sisanya 16,9% masih
BABS menggunakan WC Helicopter, ke sungai, pantai, laut, kebun,
pekarangan, selokan, parit, got, dan lain-lain.
Keterangan:
Jumlah Penduduk Kabupaten Sumenep tahun 2013 sebesar 1.053.640 jiwa atau 320.275 üKK
Jumlah penduduk Perkotaan tahun 2013 sebesar 71.524 Jiwa atau 18.477 KK ü
Kepemilikan akses Jamban Pribadiü & MCK = 83,1% % (266.149 KK)
BABS = 16,9%( 220.211 jiwa atau 54.126 KK) yang meliputi: ü
- BABS di WC helicopter = 0,80 % (2562 KK atau 8.429 jiwa)
- BABS di Sungai/pantai/laut = 9,05 % (28.984 KK atau 95.354 jiwa)
- BABS di Kebun/Pekarangan = 4.50 % (14.412 KK atau 47.413 jiwa)
- BABS di Selokan/parit/got = 1,40 % (4.483 KK atau 14.750 jiwa)
- BABS di Lubang galian = 0,95 % (3.042 KK atau 10.010 jiwa)
- BABS Tidak tahu = 0,20% (640 KK atau 2.107 jiwa)
Oleh karena itu, penting sekali bagi pemerintah Kabupaten untuk
memfasilitasi dan memberikan bantuan bagi masyarakat untuk pembuatan
jamban di setiap rumah dan kampung.
- PembangunanAkses Pendidikan yang Berakhlak
Sektor pendidikan di Kabupaten Sumenep juga harus diperkuat
setelah pembangunan sektor ekonomi pertanian, peternakan dan
kesehatan dilaksanakan. Ketersedian akses pendidikan
bagi masyarakat merupakan salah satu kunci untuk menunjang
pembangunan suatu daerah demi terwujudnya kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu pembangunan
sekolah-sekolah perlu dilakukan terutama jenjang SD, SMP sampai
SMA sehingga warga di suatu wilayah tidak harus pergi jauh untuk
sekolah.
Sebagai upaya meningkatkan indeks
pembangunan manusia (IPM), maka pelayanan pendidikan (dalam
pengertian luas) harus juga dibuka selebar-lebarnya, di samping
harus diikuti dengan peningkatan kualitas pengajaran secara maksimal.
Pendidikan di sini termasuk memberikan tekanan kepada penguatan
pesantren, sebab Kabupaten Sumenep merupakan komunitas
religius yang memiliki jumlah pesantren yang luar biasa banyak.
Siswa di pesantren bukan hanya dari Sumenep dan Jatim, tapi hampir
dari seluruh pelosok nusantara, bahkan sebagian dari luar negeri.
Oleh karena itu, perhatian yang besar harus diberikan
pemerintah daerah kepada pesantren tersebut. Berpijak pada tujuan
ini, maka diperlukan program yang intinya bisa mencapai
tujuan tersebut. Program tersebut adalah pemerataan akses pendidikan.
Selain itu, program sekolah gratis 12 tahun harus diwujudkan
dengan baik dan benar supaya tidak ada penyelewengan baik dari
pihak pemerintah maupun pihak sekolah, sehingga tidak ada lagi anak yang
putus sekolah di tengah masih berlangsungnya proses pendidikan baginya.
Terdapat tiga hal penting dalam upaya membangun pendidikan yang
terjangkau dan memeiliki karakter di Kabupaten Sumenep. Pertama,
fasilitas sekolah yang memadai dengan tersedianya
infrastruktur yang layak huni bagi siswa dan tersedianya
buku-buku tanpa memungut biaya dari siswa.Kedua, tersedianya
tenaga pengajar yang berkualitas dan mumpuni di bidangnya masing-masing.
Ketiga, membangun substansi pendidikan yang berkarakter dengan
pendekatan pembangunan akhlak. Masyarakat Sumenep selama ini
terkenal dengan masyarakat yang berakhlak islami dan berkultur
santri. Secara budaya, masyarakat santri di Pulau Madura
memiliki pandangan hidup bahwa ajaran agama, terutama islam
mengajarkan menjalani kehidupan demi pencapaian kebahagiaan dunia
dan akhirat. Substansi pendidikan dan ibadah agama harus dilaksanakan
dengan penuh ketekunan dan ketaatan karena masyarakat Madura sadar dan
yakin bahwa ngajhi bandhana akherat (mengaji merupakan bekal
akhirat). Untuk itulah kegiatan aekhteyar (berusaha keras)
di dunia dan demi tujuan akhirat yang identik dengan masyarakat
Sumenep dapat turut mendorong tujuan pembangunan.
Pembangunan pendidikan juga beririsan dengan pembangunan
masyarakat dalam mempersiapkan lulusan yang siap kerja. Semakin
bertambahnya usia angkatan sekolah dan kerja di Kabupaten Sumenep ke
depan harus diimbangi dengan pelatihan-pelatihan peserta didik
untuk menghadapi dunia kerja dengan bekerja sama dengan institusi
pendidikan sehingga pembangunan pendidikan berintegrasi dengan
kesiapan lulusan yang siap kerja agar memiliki ketrampilan dan
daya saing yang tinggi. Marilah kita merapatkan barisan untuk
mewujudkan Kabupaten Sumenep yang makmur, sejahtera, cerdas dan
berakhlak.
- Pelayanan Publik
Ketimpangan struktur belanja dalam anggaran negara, tidak
terkecuali APBD, di mana komposisi belanja publik (termasuk belanja
modal) tidak seimbang dengan belanja rutin, yang terjadi selama ini
menyebabkan tidak efektifnya pembangunan yang dilakukan. Oleh
karena itu, sebagai upaya menyelaraskan tujuan pembangunan, maka
struktur belanja tersebut secara bertahap harus diubah. Berpijak
pada tujuan ini, maka setidaknya terdapat dua program yang
harus segera dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Pertama,
peningkatan kualitas dan efektivitas anggaran.
Terdapat dua indikator untuk mengukur keberhasilan langkah
ini, yakni sistem anggaran berbasis kinerja yang saat ini masih
berpatokan pada tingkat input – output harus diubah
berdasarkan outcome.
Kedua, standarisasi pelayanan publik. Keberhasilan program ini diindikasikan dengan beberapa indikator :
- Adanya pengembangan sistem pengukuran indikator kinerja pelayanan public.
- Pengembangan sistem pelaporan dan evaluasi kinerja pelayanan publik sebesar.
Pengembangan sistem informasi kinerja yang akuntabel dan transparan yang berbasis e-government.
- Perlindungan Ibu dan Anak
Isu mengenai perlindungan ibu dan anak sering kali terlupakan
dalam formulasi berbagai kebijakan (termasuk kebijakan
pembangunan). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika
berbagai kebijakan yang diintrodusir kerap kali memberikan beban dan
menimbulkan penderitaan bagi kaum hawa. Pembangunan perlindungan ibu
dan anak di samping menciptakan perbaikan kehidupan ekonomi
masyarakat juga memperpendek kesenjangan antara laki-laki dan
perempuan. Isu ini sangat relevan dikaitkan dengan Kabupaten
Sumenep karena merupakan salah satu daerah yang warga
perempuannya banyak berprofesi sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar
negeri.
Oleh karena itu, harus terdapat kebijakan khusus yang intinya
memberikan perlindungan bagi mereka, baik ketika akan berangkat,
sedang bekerja, dan tiba lagi di kampung halaman. Dalam jangka panjang,
profesi ini harus direduksi dan digantikan dengan berbagai lapangan
pekerjaan yang lebih baik yang ada di Kabupaten Sumenep Lebih
lanjut, dalam konteks perlindungan TKW ini, keikutsertaan TKW
dalam vocational training pascakepulangan masih belum ada. Kegiatan ini
harus dilakukan sehingga mulai tahun 2016 telah terdapat TKW yang pulang
mengikuti vocational training.
Selanjutnya, isu lain yang sering luput adalah upaya
pencegahan dan penanganan trafficking. Program ini dalam beberapa
tahun ke depan ditargetkan menjadi lebih baik. Isu perlindungan anak
juga tidak kalah penting mengingat beberapa persoalan seputar anak yang
memerlukan perhatian besar, di antaranya rendahnya kesadaran
perlindungan anak di masyarakat, masih adanya perdagangan anak,
cenderung meningkatnya kekerasan terhadap anak, masih tingginya anak
usia sekolah yang tidak lagi mengenyam pendidikan, masih
tingginya angka kenakalan remaja dan anak-anak, meningkatnya korban
anak-anak terlantar dan anak jalanan, dan masih minimnya pendampingan
anak yang harus diberikan pelatihan dan pemahaman
pelatihan kepemimpinan bagi anak.
Beberapa program-program terkait dengan isu perlindungan anak yang akan dilakukan adalah :
- Kegiatan pengawasan dan penindakan terhadap kejahatan kekerasan terhadap anak dan perdagangan anak.
- Pembangunan pusat rehabilitasi dan keterampilan terhadap anak-anak putus sekolah.
- Pembinaan kepada anak korban kekerasan, anak jalanan dan perdagangan anak
- Pendirian Pusat Kegiatan Seni dan Keterampilan bagi anak Jalanan dan Putus Sekolah.
- Pembentukan Forum Anak.
- Monitoring, evaluasi dan pelaporan.
- Membangun Sumenep sebagai Kabupaten Pariwisata dan Sejarah
Dalam bidang pariwisata sektor yang perlu ditekankan adalah
membuat konsep pariwisata terpadu. Warisan yang ada di
setiapdaerah di dunia memiliki arti penting yang berbeda
bagi penduduk kota itu sendiri, baik untuk penduduk di negara dan
sebuah kota atau bahkan bagi dunia. Situs bersejarah dapat
disebarluaskan dan diketahui eksistensinya melalui wisata
sehingga bisa menjadi satu ciri khas. Selama ini wisata Kabupaten
Sumenep belumlah tergarap dengan baik.
Banyak hal yang bisa dikembangkan di Sumenep semisal
memfasilitasi dan mempertahankan atsitektur khas Sumenep dan
peninggalan arsitektur Kolonial di Kabupaten Sumenep.
Terdapat beberapa jenis potensi wisata di Kabupaten Sumenep.
Pertama, tempat sejarah budaya dan arsitektur yang meliputi Museum
Keraton Sumenep, Masjid Jamik Sumenep, Kota Tua Kalianget dan Benteng
VOC Kalimo’ok di Kalianget. Kedua, wisata religi dan ziarah
yang meilputi Asta Karang Sabu, Kompleks Pemakaman Asta Tinggi,
Asta Yusuf dan Asta Katandur. Ketiga, Wisata Laut dan Alam
meliputi Pantai Slopeng, Goa Jeruk Asta Tinggi, Taman Air Kiermata di
Kecamatan Saronggi, Goa Kuning dai Kangean dan Goa Payudan di
Guluk-guluk, Wisata Taman Laut Mamburit Pulau Arjasa, Wisata
Taman Laut Gililabak Pulau Talango dan Pantai Pasir Putih dan
Terumbu Karang Saor Sapeken. Keempat, Wisata Konservasi yang
meliputi Ayam Bekisar Sumenep di Pulau Kangean, Kijamh di hutan
Arjasa dan Cemara Udang di pantai Lombang.
Semua ini bisa dikembangkan menjadi paket wisata yang juga
terhubung dengan kabupaten laiannya di Madura dan bahkan di Jawa
Timur dengan konsep Five Days In Madura and East Java. Jadi para
wisatawan memerlukan minimal 3 hari untuk tinggal dan menikmati
pariwisata di Sumenep dan2 hari sebelumnya bisa dimanfaatkan mampir
terlebih dahulu di Surabaya, Bangkalan, Sampang atau Pamekasan. Tujuan
akhir perjalanan pariwisata ini adalah di Sumenep dan
puncaknya menikmati keindahan Sumenep beserta potensi wisata dan
kulinernya yang penuh dengan nuansa budaya dan sejarah.
- PENUTUP
Demikianlah visi dan misi sebagai Calon Bupati Sumenep
2015-2020 dibuat guna menjadikan Kabupaten Sumenep yang tercinta ini
menjadi lebih makmur lagi, menjadi lebuh cerdas dan semakin berakhlak.
Semoga semua ini membawa kebaikan dan perbaikan bagi Kabupaten Sumenep.
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dr. Ir. H. Zainal Abidin MM., ME., Tetala : Gapura
Sumenep, Agustus 1954 Riwayat Pendidikan : 7. SD Negeri Bluto
Sumenep 8. SMP Negeri 1 Sumenep 9. SMA Negeri 1 Sumenep 10. Strata
Satu Teknik Kimia ITS Surabaya 11. Pasca Sarjana Perencanaan Regional
Universitas Brawijaya Malang 12. Doktoral Ilmu Ekonomi Pembangunan
Universitas Brawijaya Malang Riwayat Pekerjaan : 1. Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur 2. Kepala Badan Pendapatan
Daerah Jawa Timur